Rabu, 28 Januari 2009

enk y jd orang ndeso....
kesehatan masih terjaga coba liat oarng zaman2 dulu suasana masih kyk desa...
banyakkan yang sehat dan jarang terjangkit penyakit..
ya kan???
malah obat2an juga masih sangat sederhyan ndan tanpa adanya bahan2 beracun
g kayak zaman sekarang
banyak jenis2 penyakit yang bikin kita pusing...
jadi bearti semakin orang itu pinter berarti banyank orang yang terjangkit penyakit..
padahal orang2 ndeso jg g kalah pinter...
pokok'e wong ndeso is the best!!!!!

Sabtu, 03 Januari 2009

kota vs desa

17 agustus : kota VS desa
percayakah anda. bahwa lebih menyenangkan ber-17-an di desa ketimbang di kota. kenapa? karena semangat 17 agustus di desa sangat2 kental skali. enak loh. aura 17 nya itu sangat besar. dengan adanya banyak sekali permainan2 tradisional. sedangkan di kota, saya hanya melihat2 orang pawai dan konvoi mobil2 dan motor2 besar. saya rindu akan permainan tradisional. untunglah saya pergi ke desa. saya dapat menikmatinya.

silahkan buktikan sendiri kalau di desa lebih seru 17-an nya ketimbang di kota.

Selasa, 23 Desember 2008

Over 21,000 delegates, including 108 heads of state, attended the World Summit on Sustainable Development in Johannesburg from 26 August to 4 September 2002. Delegates agreed a 54-page Plan of Implementation and a Political Declaration, and governments and stakeholders made numerous announcements of new partnerships and resources that will attempt to carry forward sustainable development implementation into the future.

The major outcome document, the Plan of Implementation , contains targets and timetables to spur action on a wide range of issues, including halving the proportion of people who lack access to clean water or proper sanitation by 2015, restoring depleted fisheries and preserving biodiversity by 2015, and, by 2020, using and producing chemicals in ways that do not harm human health and the environment. In addition, countries adopted, for the first time, commitments toward increasing the use of renewable energy "with a sense of urgency", although no target date was set for this.

Partnerships and initiatives worth several billion dollars were announced by and between governments, citizen groups and businesses. Over 220 partnerships representing $235 million in resources had been identified prior to the Summit. Around 60 partnerships were announced during the Summit and included major initiatives by countries such as the US, Japan, UK, Germany, France, and the EU.

A great deal is hoped for from these partnership initiatives; thus, the United Nations Secretary-General Kofi Annan lauded the phenomenon of "the UN, governments, business and civil society coming together to increase the pool of resources to tackle global problems on a global scale." Of course, the true test of what the Johannesburg Summit will have achieved, Mr. Annan said, are the actions that are taken afterwards. "We have to go out and take action. This is not the end. It's the

orang desa

Tak semua orang sadar, belakangan ini kerupuk tapioka bundar yang biasa dijual di dalam kaleng di warung-warung pinggir jalan ukurannya lebih kecil dari sebelumnya. Memangkas ukuran kerupuk merupakan salah satu kiat untuk bertahan.

Dengan cara itu, para pengusaha kerupuk murah meriah tersebut bisa bertahan hidup di tengah meroketnya harga bahan bakar dan bahan-bahan baku saat ini.

"Tidak bisa tidak, kami harus mengecilkan ukuran. Kalau tidak, kami bisa bangkrut," kata Ny Erlin, pengusaha kerupuk warung, di rumah yang sekaligus menjadi pabriknya di Kelurahan Menteng, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (27/3). Sejak Januari lalu, saat minyak tanah mulai langka dan harganya makin menggila, perempuan berusia 45 tahun itu mengurangi bahan adonan dari 17 gram menjadi 11-13 gram per kerupuk.

Langkah yang sama diambil Haji Kusnadi, pengusaha kerupuk warung lain di daerah Tugu, Cimanggis, Depok. "Ukuran diameter adonan kerupuk sekarang saya perkecil dari 6 sentimeter menjadi 5,6 sentimeter," kata lelaki berusia 54 tahun itu.

Menaikkan harga jual produk dianggap para pengusaha kerupuk warung sebagai hal yang tak mungkin dilakukan. "Kerupuk ini, kan, makanan rakyat kelas bawah. Harga Rp 500 sudah maksimal. Kalau lebih dari itu, tak ada yang mau beli?" kilah Syamsuddin (66), pemilik pabrik kerupuk lain di Menteng Atas.

Namun, gara-gara minyak tanah harganya kini sudah mencapai Rp 6.000 per liter serta naiknya tepung tapioka, terigu, dan bahan baku lain, industri kerupuk rakyat ini terdera. "Terigu yang awal tahun ini masih Rp 92.500 per kuintal sekarang sudah Rp 180.000," keluh Ny Erlin yang menggunakan juga tepung terigu sebagai bahan racikan adonan kerupuknya.

Kembali ke kayu bakar

Sadar minyak tanah bersubsidi akan sepenuhnya hilang dari pasaran Jakarta dan harganya bakal tak terjangkau lagi, sejak beberapa bulan lalu perempuan yang mewarisi pabrik kerupuk dari ayahnya ini sudah mulai mengombinasikan penggunaan minyak tanah dengan dua jenis bahan bakar lain, yakni gas dan batu bara.

"Kalau pasokan minyak tanah sedang tersendat, saya pakai batu bara. Tetapi, karena pasokan batu bara dari perusahaan penyalurnya juga belum stabil, saya juga memakai gas," katanya. Menurut Erlin, penggunaan elpiji masih jadi pilihan terakhir. "Para karyawan saya umumnya, kan, berpendidikan rendah. Mereka belum terlalu sadar besarnya bahaya jika mereka kurang hati-hati dan tabung elpiji sampai meledak," tuturnya.

Erlin yang pabriknya membutuhkan 100 liter mintak tanah menambahkan, jika masyarakat diminta mengganti bahan bakar untuk memasak dari minyak tanah ke bahan bakar lain, seharusnya bahan bakar baru itu tidak lebih mahal dari harga minyak tanah. Itu sebabnya, ibu dua anak ini mengeluhkan harga tabung elpiji 15 kilogram yang melonjak sampai Rp 500.000 per tabung sejak pemerintah melakukan konversi minyak tanah ke elpiji. "Untuk beli enam tabung gas saja saya sudah menghabiskan uang Rp 3 juta," ujar bos pabrik kerupuk Puji Rasa itu.

Untuk menekan biaya produksi, Haji Kusnadi bahkan mengaku sudah kembali mencoba menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk mengukus adonan dan menggoreng kerupuknya. "Kayu didapat dari penebangan pohon milik warga di sekitar rumah saya. Alhamdulillah, ada saja tetangga yang menawari pohon tua untuk ditebang," cerita Kusnadi yang mengaku sengaja membeli gergaji mesin untuk keperluan ini.

"Saya sekarang juga menggoreng kerupuk memakai serbuk kayu sisa penggergajian para pembuat kusen yang banyak terdapat di sekitar pabrik saya yang di Cimanggis," kata pengusaha kerupuk yang punya dua pabrik di Beji dan Cimanggis ini.

Kebijakan kembali ke kayu bakar juga dipilih Haji Syamsuddin. Di gudang pabrik kerupuknya terlihat tumpukan potongan kayu bekas, bukan drum minyak tanah atau tabung-tabung elpiji.
Sumber hidup banyak orang.

Erlin mengaku sebetulnya sudah lelah mengurusi pabrik kerupuknya yang sudah berdiri sejak tahun 1949. "Saya tetap berusaha bertahan hanya karena memikirkan nasib para karyawan. Kalau pabrik ditutup, mereka, kan, akan jadi penganggur," kata Erlin yang punya 40 karyawan.

Para pekerja pabrik kerupuk di Jakarta umumnya adalah orang desa miskin dari daerah Ciamis, Jawa Barat. Mereka adalah orang-orang desa yang tak lagi bisa menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Mereka merantau dan mengadu nasib di Ibu Kota bukan untuk diri sendiri, melainkan juga untuk kehidupan anak-istri di kampung halaman.

Kusnadi juga bilang, pabrik kerupuknya tidak hanya menghidupi dirinya sendiri, tetapi juga segenap karyawannya. "Di seluruh wilayah Jabodetabek ada lebih dari 400 pengusaha kerupuk. Kalau tiap orang mempekerjakan 30 orang saja, artinya ada 12.000 orang yang hidupnya bergantung pada industri kecil ini," papar Kusnadi, yang juga pengurus Asosiasi Pengusaha Kerupuk Se-Jabodetabek.
Namun, menggilanya harga bahan bakar dan bahan baku produksi membuat para pengusaha kerupuk ini terancam gulung tikar dan terpaksa merumahkan para pekerjanya.

Kalau hal ini benar-benar menjadi kenyataan, bukan mustahil kerupuk warung, yang entah sejak kapan sudah jadi teman setia makan kita sehari-hari, akan segera jadi sejarah, punah digulung zaman.

Selasa, 16 Desember 2008

Permainan nDeso

Permainan nDeso

Diarsipkan di bawah: Artikel & berita — yayasan hijau gerakan peduli lingkungan @ 6:51 pm

Permainan tradisional adalah simulasi kehidupan sehari-hari. Aspek-aspek yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari muncul dalam permainan tradisional. Permainan tradisional sebagai bahan belajar langsung dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Kalah menang, kuat lemah, dan faktor fisik kekuatan otot tidak penting dalam permainan. Yang paling penting adalah bagaimana berproses dalam permainan tersebut.

Ada berbagai jenis permainan. Permainan tradisional, permainan bertujuan, dan permainan icebreaker/energizer. Permainan tradisional adalah permainan yang bisa digali dari permainan yang telah ada dan pernah ada di lingkungan sekitar kita. Permainan bertujuan adalah permainan yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Permainan ini sesuai dengan tema dan aspek lain seperti umur dan wilayah. Permaian bertujuan adalah simulasi dari kehidupan sehari-hari. Setelah dilaksanakan permainan bertujuan akan dilakukan diskusi atau sharing makna dan intisari dari permainan.
Permainan icebreaking adalah permainan antara untuk memecah kebekuan. Kebekuan karena belum kenal dan akrab atau juga bisa menjadi permainan energizer jika menjadi permainan penyemangat lagi ditengah-tengah acara.

________________________________________
Permainan Tradisional dan budaya lokal
________________________________________

1. Egrang
Tujuan
1. Mengenali budaya dan potensi desa.
2. Mengembangkan kepercayaan diri
3. Mengembangkan saraf sensorik dan motorik anak

Perintah :
• Buatlah (jika belum ada egrang ) atau Kompetisi berjalan dengan egrang menurut lintasan masing-masing (egrang sudah tersedia)
Aturan :
• Pakailah bahan yang ada di sekitar untuk membuat egrang (jika egrang belum jadi)
• Saat berjalan tidak boleh salah lintasan
• Jika jatuh ulangi dari awal
• Waktu 30 menit

Refleksi :
Egrang adalah salah satu media pembelajaran yang mengembangkan ketrampilan tubuh dan pikiran. Egrang mengajarkan pada kita bahwa dengan permainan yang ada di sekitar kita mempunyai nilai-nilai dan manfaat yang bermanfaat bagi pertumbuhan fisik, pikiran dan pengetahuan.
Alat:
o egrang, atau bambu bahan dasar egrang
o lintasan permainan
________________________________________

2. Teklek
Tujuan
1. Mengenali budaya dan potensi desa.
2. Mengenali kelebihan dan kelemahan anggota kelompok.
3. Membangun kemampuan membuat strategi dan staffing anggota kelompok
4. Mengembangkan kepasrahan dan kepercayaan dalam kelompok

Perintah :
• Buatlah (jika belum ada teklek ) atau Kompetisi berjalan dengan teklek menurut lintasan masing-masing (teklek sudah tersedia)
Aturan :
• Pakailah bahan yang ada di sekitar untuk membuat teklek (jika teklek belum jadi)
• Saat berjalan tidak boleh salah lintasan
• Jika jatuh ulangi dari awal
• Waktu 30 menit

Refleksi :
Teklek adalah salah satu media pembelajaran yang mengembangkan ketrampilan kerjasama dengan orang lain. Teklek mengajarkan pada kita bahwa perlu sebuah keteraturan, kebersamaan dan saling percaya antar teman.
Alat:
o teklek, atau bahan dasar egrang (teklek bathok – teklek kayu)
o lintasan permainan

Jangan Pilih Kampus Ndeso !

Jangan Pilih Kampus Ndeso !

Mengapa ?
Karena jarang ada beasiswa. :((

Berikut ini salah satu curhat dari seorang kawan.

yah, beginilah nasib, deritanya tiada akhir.. :-)

memang keadilan belum berpihak kepadaku mas, padahal tadi udah ngotot2 nemuin PR3 tapi apa yang beliau katakan, “ini negeri mas, nanti kalau mbayarnya kurang itu gak bisa keluar nomornya, maaf ya mas”

WOW…. miris sekali kata-katanya…. sampai ibuku tercinta tercengang.. kok ada ya orang setega itu..

setelah itu PR itu bertelepon, katanya sih dibicarakan dulu sama bagian keuangan dan panitia penerimaan, nah baru beliau memberi kebijakan “buk, dek, begini, kita sepakat untuk memberi kebijakan terakhir, hari ini kan hari terakhir registrasi, maka dari itu ibu dan adek kami beri disposisi sampai besok jam tiga. dan kami akan tunggu..

” wuih…. gila.. emang cari uang sejuta satu hari itu gampang apa? ya sudah deh… ;( diterima apa adanya dan kembali kekenyataan, aku gak bisa kulian tahun ini kalau besok aku gak bisa dapetin uang itu. sulit benar ya sekarang masuk universitas. padahal ini trunojoyo, universitas murah super murah gak lebih dua juta setengah daftar ulangnya gak bisa diringankan atau dicicil, apalagi kayak UI, ITB, ITS UGM Brawijaya yang punya pamor besar di indonesia ??? jadi takut aku masuk sana..

Senin, 15 Desember 2008

“Wong Ndeso Katro" Main Film “Otomatis-Romantis”

Jakarta-RuangFilm. Tukul Arwana yang populer dengan gaya khas ke-ndeso-annya ternyata menarik minat para sineas nasional untuk dibawa ke layar lebar. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung beradu akting dengan para aktor-aktris yang lebih dahulu berkecimpung di layar lebar, seperti Marsya Timothy, Tora Sudiro, Wulan Guritno, Dwi Sasono, Poppy Sovia, Tarsan, dan lain-lain. Film produksi ISI (Intan Sinema Indonesia) dan Moviesta ini diberi tajuk “Otomatis - Romantis”.

Film genre komedi-romantis ini di sutradarai oleh Guntur Soeharjanto, dan skenarionya digarap oleh Monty Tiwa yang sebelumnya banyak menggarap skenario film-film laris. Selain sebagai penulis skenario, di film ini, Monty Tiwa juga bertindak sebagai produser bersama Monica Harijanto.

“Film komedi romantis di Indonesia hampir sebagian besar mempunyai genre yang sama, yaitu perbedaan kelas sosial. Laki-laki kaya dan perempuan miskin yang bertemu, kemudian menjalin hubungan, dan seterusnya, Tapi, di film ini justru terbalik! Sebuah hal yang baru, dimana tokoh laki-laki berasal dari kelas sosial rendah (miskin) dan perempuan adalah wanita mapan dan kaya. Sebuah pola yang unik. Ketika mereka berinteraksi dan saling berkomunikasi selalu muncul konflik tak terduga. Kadang lucu, tapi di lain waktu malah terdengar satir,” ujar sang sutradara dalam rilis kepada pers yang diterima oleh RuangFilm.

Film yang berkisah mengenai Nadia, seorang wanita muda, cantik (Marsha Timothy), punya karir bagus di kantor majalah wanita, yang merasa dirinya tidak mampu memiliki pasangan ideal. Padahal, dalam kenyataan sehari-hari, banyak pria mendekatinya, bahkan dia sangat ahli mencetuskan berbagai tips jitu dalam mencari pasangan ideal untuk dimuat dalam majalahnya.

Tanpa disadari, sedikit demi sedikit dia menyadari, bahwa pria yang akhirnya berhasil menyentuh hatinya adalah seorang pria bersahaja, lugu dan tulus dalam melakukan segala hal, Bambang (Tora Sudiro), yang tak lain adalah karyawan administrasi di kantornya yang berasal dari desa terpencil di Yogyakarta. Namun, Nadia tidak mungkin mengungkapkan rasa sukanya pada Bambang yang selalu menganggap Nadia adalah atasan yang harus dihormati, dan tentu saja Nadia tidak ingin wibawanya jatuh.

Gelagat ini diketahui oleh kakaknya, Nabila (Wulan Guritno), yang mendukung Nadia sepenuhnya. Tapi, Nadia khawatir Bambang adalah tipe pria yang sama dengan Dave (Tukul Arwana), suami Nabila, yang dulunya juga pria lugu dan ndeso tetapi berkat dukungan Nabila, akhirnya kaya mendadak dan kini kelakuannya berubah total menjadi pria tengil dan genit.

Saat Nadia akhirnya nekad ingin menyatakan cintanya pada Bambang, tanpa diduga Bambang terus terang padanya, bahwa dia akan menikahi pacarnya Trisno (Dwi Sasono), kakak Bambang, karena merasa iba akibat Trisno tidak mau bertanggungjawab atas kehamilan pacarnya. Akankah ini suatu hal yang mengakhiri rasa cintanya pada Bambang? Kita tunggu saja jawaban dan kisah selengkapnya di Bioskop pada 18 Januari 2008 nanti.