Selasa, 23 Desember 2008

Over 21,000 delegates, including 108 heads of state, attended the World Summit on Sustainable Development in Johannesburg from 26 August to 4 September 2002. Delegates agreed a 54-page Plan of Implementation and a Political Declaration, and governments and stakeholders made numerous announcements of new partnerships and resources that will attempt to carry forward sustainable development implementation into the future.

The major outcome document, the Plan of Implementation , contains targets and timetables to spur action on a wide range of issues, including halving the proportion of people who lack access to clean water or proper sanitation by 2015, restoring depleted fisheries and preserving biodiversity by 2015, and, by 2020, using and producing chemicals in ways that do not harm human health and the environment. In addition, countries adopted, for the first time, commitments toward increasing the use of renewable energy "with a sense of urgency", although no target date was set for this.

Partnerships and initiatives worth several billion dollars were announced by and between governments, citizen groups and businesses. Over 220 partnerships representing $235 million in resources had been identified prior to the Summit. Around 60 partnerships were announced during the Summit and included major initiatives by countries such as the US, Japan, UK, Germany, France, and the EU.

A great deal is hoped for from these partnership initiatives; thus, the United Nations Secretary-General Kofi Annan lauded the phenomenon of "the UN, governments, business and civil society coming together to increase the pool of resources to tackle global problems on a global scale." Of course, the true test of what the Johannesburg Summit will have achieved, Mr. Annan said, are the actions that are taken afterwards. "We have to go out and take action. This is not the end. It's the

orang desa

Tak semua orang sadar, belakangan ini kerupuk tapioka bundar yang biasa dijual di dalam kaleng di warung-warung pinggir jalan ukurannya lebih kecil dari sebelumnya. Memangkas ukuran kerupuk merupakan salah satu kiat untuk bertahan.

Dengan cara itu, para pengusaha kerupuk murah meriah tersebut bisa bertahan hidup di tengah meroketnya harga bahan bakar dan bahan-bahan baku saat ini.

"Tidak bisa tidak, kami harus mengecilkan ukuran. Kalau tidak, kami bisa bangkrut," kata Ny Erlin, pengusaha kerupuk warung, di rumah yang sekaligus menjadi pabriknya di Kelurahan Menteng, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (27/3). Sejak Januari lalu, saat minyak tanah mulai langka dan harganya makin menggila, perempuan berusia 45 tahun itu mengurangi bahan adonan dari 17 gram menjadi 11-13 gram per kerupuk.

Langkah yang sama diambil Haji Kusnadi, pengusaha kerupuk warung lain di daerah Tugu, Cimanggis, Depok. "Ukuran diameter adonan kerupuk sekarang saya perkecil dari 6 sentimeter menjadi 5,6 sentimeter," kata lelaki berusia 54 tahun itu.

Menaikkan harga jual produk dianggap para pengusaha kerupuk warung sebagai hal yang tak mungkin dilakukan. "Kerupuk ini, kan, makanan rakyat kelas bawah. Harga Rp 500 sudah maksimal. Kalau lebih dari itu, tak ada yang mau beli?" kilah Syamsuddin (66), pemilik pabrik kerupuk lain di Menteng Atas.

Namun, gara-gara minyak tanah harganya kini sudah mencapai Rp 6.000 per liter serta naiknya tepung tapioka, terigu, dan bahan baku lain, industri kerupuk rakyat ini terdera. "Terigu yang awal tahun ini masih Rp 92.500 per kuintal sekarang sudah Rp 180.000," keluh Ny Erlin yang menggunakan juga tepung terigu sebagai bahan racikan adonan kerupuknya.

Kembali ke kayu bakar

Sadar minyak tanah bersubsidi akan sepenuhnya hilang dari pasaran Jakarta dan harganya bakal tak terjangkau lagi, sejak beberapa bulan lalu perempuan yang mewarisi pabrik kerupuk dari ayahnya ini sudah mulai mengombinasikan penggunaan minyak tanah dengan dua jenis bahan bakar lain, yakni gas dan batu bara.

"Kalau pasokan minyak tanah sedang tersendat, saya pakai batu bara. Tetapi, karena pasokan batu bara dari perusahaan penyalurnya juga belum stabil, saya juga memakai gas," katanya. Menurut Erlin, penggunaan elpiji masih jadi pilihan terakhir. "Para karyawan saya umumnya, kan, berpendidikan rendah. Mereka belum terlalu sadar besarnya bahaya jika mereka kurang hati-hati dan tabung elpiji sampai meledak," tuturnya.

Erlin yang pabriknya membutuhkan 100 liter mintak tanah menambahkan, jika masyarakat diminta mengganti bahan bakar untuk memasak dari minyak tanah ke bahan bakar lain, seharusnya bahan bakar baru itu tidak lebih mahal dari harga minyak tanah. Itu sebabnya, ibu dua anak ini mengeluhkan harga tabung elpiji 15 kilogram yang melonjak sampai Rp 500.000 per tabung sejak pemerintah melakukan konversi minyak tanah ke elpiji. "Untuk beli enam tabung gas saja saya sudah menghabiskan uang Rp 3 juta," ujar bos pabrik kerupuk Puji Rasa itu.

Untuk menekan biaya produksi, Haji Kusnadi bahkan mengaku sudah kembali mencoba menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk mengukus adonan dan menggoreng kerupuknya. "Kayu didapat dari penebangan pohon milik warga di sekitar rumah saya. Alhamdulillah, ada saja tetangga yang menawari pohon tua untuk ditebang," cerita Kusnadi yang mengaku sengaja membeli gergaji mesin untuk keperluan ini.

"Saya sekarang juga menggoreng kerupuk memakai serbuk kayu sisa penggergajian para pembuat kusen yang banyak terdapat di sekitar pabrik saya yang di Cimanggis," kata pengusaha kerupuk yang punya dua pabrik di Beji dan Cimanggis ini.

Kebijakan kembali ke kayu bakar juga dipilih Haji Syamsuddin. Di gudang pabrik kerupuknya terlihat tumpukan potongan kayu bekas, bukan drum minyak tanah atau tabung-tabung elpiji.
Sumber hidup banyak orang.

Erlin mengaku sebetulnya sudah lelah mengurusi pabrik kerupuknya yang sudah berdiri sejak tahun 1949. "Saya tetap berusaha bertahan hanya karena memikirkan nasib para karyawan. Kalau pabrik ditutup, mereka, kan, akan jadi penganggur," kata Erlin yang punya 40 karyawan.

Para pekerja pabrik kerupuk di Jakarta umumnya adalah orang desa miskin dari daerah Ciamis, Jawa Barat. Mereka adalah orang-orang desa yang tak lagi bisa menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Mereka merantau dan mengadu nasib di Ibu Kota bukan untuk diri sendiri, melainkan juga untuk kehidupan anak-istri di kampung halaman.

Kusnadi juga bilang, pabrik kerupuknya tidak hanya menghidupi dirinya sendiri, tetapi juga segenap karyawannya. "Di seluruh wilayah Jabodetabek ada lebih dari 400 pengusaha kerupuk. Kalau tiap orang mempekerjakan 30 orang saja, artinya ada 12.000 orang yang hidupnya bergantung pada industri kecil ini," papar Kusnadi, yang juga pengurus Asosiasi Pengusaha Kerupuk Se-Jabodetabek.
Namun, menggilanya harga bahan bakar dan bahan baku produksi membuat para pengusaha kerupuk ini terancam gulung tikar dan terpaksa merumahkan para pekerjanya.

Kalau hal ini benar-benar menjadi kenyataan, bukan mustahil kerupuk warung, yang entah sejak kapan sudah jadi teman setia makan kita sehari-hari, akan segera jadi sejarah, punah digulung zaman.

Selasa, 16 Desember 2008

Permainan nDeso

Permainan nDeso

Diarsipkan di bawah: Artikel & berita — yayasan hijau gerakan peduli lingkungan @ 6:51 pm

Permainan tradisional adalah simulasi kehidupan sehari-hari. Aspek-aspek yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari muncul dalam permainan tradisional. Permainan tradisional sebagai bahan belajar langsung dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Kalah menang, kuat lemah, dan faktor fisik kekuatan otot tidak penting dalam permainan. Yang paling penting adalah bagaimana berproses dalam permainan tersebut.

Ada berbagai jenis permainan. Permainan tradisional, permainan bertujuan, dan permainan icebreaker/energizer. Permainan tradisional adalah permainan yang bisa digali dari permainan yang telah ada dan pernah ada di lingkungan sekitar kita. Permainan bertujuan adalah permainan yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Permainan ini sesuai dengan tema dan aspek lain seperti umur dan wilayah. Permaian bertujuan adalah simulasi dari kehidupan sehari-hari. Setelah dilaksanakan permainan bertujuan akan dilakukan diskusi atau sharing makna dan intisari dari permainan.
Permainan icebreaking adalah permainan antara untuk memecah kebekuan. Kebekuan karena belum kenal dan akrab atau juga bisa menjadi permainan energizer jika menjadi permainan penyemangat lagi ditengah-tengah acara.

________________________________________
Permainan Tradisional dan budaya lokal
________________________________________

1. Egrang
Tujuan
1. Mengenali budaya dan potensi desa.
2. Mengembangkan kepercayaan diri
3. Mengembangkan saraf sensorik dan motorik anak

Perintah :
• Buatlah (jika belum ada egrang ) atau Kompetisi berjalan dengan egrang menurut lintasan masing-masing (egrang sudah tersedia)
Aturan :
• Pakailah bahan yang ada di sekitar untuk membuat egrang (jika egrang belum jadi)
• Saat berjalan tidak boleh salah lintasan
• Jika jatuh ulangi dari awal
• Waktu 30 menit

Refleksi :
Egrang adalah salah satu media pembelajaran yang mengembangkan ketrampilan tubuh dan pikiran. Egrang mengajarkan pada kita bahwa dengan permainan yang ada di sekitar kita mempunyai nilai-nilai dan manfaat yang bermanfaat bagi pertumbuhan fisik, pikiran dan pengetahuan.
Alat:
o egrang, atau bambu bahan dasar egrang
o lintasan permainan
________________________________________

2. Teklek
Tujuan
1. Mengenali budaya dan potensi desa.
2. Mengenali kelebihan dan kelemahan anggota kelompok.
3. Membangun kemampuan membuat strategi dan staffing anggota kelompok
4. Mengembangkan kepasrahan dan kepercayaan dalam kelompok

Perintah :
• Buatlah (jika belum ada teklek ) atau Kompetisi berjalan dengan teklek menurut lintasan masing-masing (teklek sudah tersedia)
Aturan :
• Pakailah bahan yang ada di sekitar untuk membuat teklek (jika teklek belum jadi)
• Saat berjalan tidak boleh salah lintasan
• Jika jatuh ulangi dari awal
• Waktu 30 menit

Refleksi :
Teklek adalah salah satu media pembelajaran yang mengembangkan ketrampilan kerjasama dengan orang lain. Teklek mengajarkan pada kita bahwa perlu sebuah keteraturan, kebersamaan dan saling percaya antar teman.
Alat:
o teklek, atau bahan dasar egrang (teklek bathok – teklek kayu)
o lintasan permainan

Jangan Pilih Kampus Ndeso !

Jangan Pilih Kampus Ndeso !

Mengapa ?
Karena jarang ada beasiswa. :((

Berikut ini salah satu curhat dari seorang kawan.

yah, beginilah nasib, deritanya tiada akhir.. :-)

memang keadilan belum berpihak kepadaku mas, padahal tadi udah ngotot2 nemuin PR3 tapi apa yang beliau katakan, “ini negeri mas, nanti kalau mbayarnya kurang itu gak bisa keluar nomornya, maaf ya mas”

WOW…. miris sekali kata-katanya…. sampai ibuku tercinta tercengang.. kok ada ya orang setega itu..

setelah itu PR itu bertelepon, katanya sih dibicarakan dulu sama bagian keuangan dan panitia penerimaan, nah baru beliau memberi kebijakan “buk, dek, begini, kita sepakat untuk memberi kebijakan terakhir, hari ini kan hari terakhir registrasi, maka dari itu ibu dan adek kami beri disposisi sampai besok jam tiga. dan kami akan tunggu..

” wuih…. gila.. emang cari uang sejuta satu hari itu gampang apa? ya sudah deh… ;( diterima apa adanya dan kembali kekenyataan, aku gak bisa kulian tahun ini kalau besok aku gak bisa dapetin uang itu. sulit benar ya sekarang masuk universitas. padahal ini trunojoyo, universitas murah super murah gak lebih dua juta setengah daftar ulangnya gak bisa diringankan atau dicicil, apalagi kayak UI, ITB, ITS UGM Brawijaya yang punya pamor besar di indonesia ??? jadi takut aku masuk sana..

Senin, 15 Desember 2008

“Wong Ndeso Katro" Main Film “Otomatis-Romantis”

Jakarta-RuangFilm. Tukul Arwana yang populer dengan gaya khas ke-ndeso-annya ternyata menarik minat para sineas nasional untuk dibawa ke layar lebar. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung beradu akting dengan para aktor-aktris yang lebih dahulu berkecimpung di layar lebar, seperti Marsya Timothy, Tora Sudiro, Wulan Guritno, Dwi Sasono, Poppy Sovia, Tarsan, dan lain-lain. Film produksi ISI (Intan Sinema Indonesia) dan Moviesta ini diberi tajuk “Otomatis - Romantis”.

Film genre komedi-romantis ini di sutradarai oleh Guntur Soeharjanto, dan skenarionya digarap oleh Monty Tiwa yang sebelumnya banyak menggarap skenario film-film laris. Selain sebagai penulis skenario, di film ini, Monty Tiwa juga bertindak sebagai produser bersama Monica Harijanto.

“Film komedi romantis di Indonesia hampir sebagian besar mempunyai genre yang sama, yaitu perbedaan kelas sosial. Laki-laki kaya dan perempuan miskin yang bertemu, kemudian menjalin hubungan, dan seterusnya, Tapi, di film ini justru terbalik! Sebuah hal yang baru, dimana tokoh laki-laki berasal dari kelas sosial rendah (miskin) dan perempuan adalah wanita mapan dan kaya. Sebuah pola yang unik. Ketika mereka berinteraksi dan saling berkomunikasi selalu muncul konflik tak terduga. Kadang lucu, tapi di lain waktu malah terdengar satir,” ujar sang sutradara dalam rilis kepada pers yang diterima oleh RuangFilm.

Film yang berkisah mengenai Nadia, seorang wanita muda, cantik (Marsha Timothy), punya karir bagus di kantor majalah wanita, yang merasa dirinya tidak mampu memiliki pasangan ideal. Padahal, dalam kenyataan sehari-hari, banyak pria mendekatinya, bahkan dia sangat ahli mencetuskan berbagai tips jitu dalam mencari pasangan ideal untuk dimuat dalam majalahnya.

Tanpa disadari, sedikit demi sedikit dia menyadari, bahwa pria yang akhirnya berhasil menyentuh hatinya adalah seorang pria bersahaja, lugu dan tulus dalam melakukan segala hal, Bambang (Tora Sudiro), yang tak lain adalah karyawan administrasi di kantornya yang berasal dari desa terpencil di Yogyakarta. Namun, Nadia tidak mungkin mengungkapkan rasa sukanya pada Bambang yang selalu menganggap Nadia adalah atasan yang harus dihormati, dan tentu saja Nadia tidak ingin wibawanya jatuh.

Gelagat ini diketahui oleh kakaknya, Nabila (Wulan Guritno), yang mendukung Nadia sepenuhnya. Tapi, Nadia khawatir Bambang adalah tipe pria yang sama dengan Dave (Tukul Arwana), suami Nabila, yang dulunya juga pria lugu dan ndeso tetapi berkat dukungan Nabila, akhirnya kaya mendadak dan kini kelakuannya berubah total menjadi pria tengil dan genit.

Saat Nadia akhirnya nekad ingin menyatakan cintanya pada Bambang, tanpa diduga Bambang terus terang padanya, bahwa dia akan menikahi pacarnya Trisno (Dwi Sasono), kakak Bambang, karena merasa iba akibat Trisno tidak mau bertanggungjawab atas kehamilan pacarnya. Akankah ini suatu hal yang mengakhiri rasa cintanya pada Bambang? Kita tunggu saja jawaban dan kisah selengkapnya di Bioskop pada 18 Januari 2008 nanti.
BELAJAR DARI WONG NDESO
Oleh Benedicta Ecsella / XI IPS 2

Pada tanggal 18 juni 2007, SMA Tarsisius II Jakarta mengadakan Live in Di Promasan-Yogyakarta. Saat jam menunjukan pukul 3 siang saya sampai di sekolah untuk berkumpul terlebih dahulu. Saat teman-teman semua sudah datang, kami mulai di absen, pak Beni memberi tahu peraturan live in dan berbicara sedikit mengenai live in kemudian ada kata sambutan dari sekolah oleh Pak Sri dan kata sambutan dari salah satu orang tua murid. Baju live in pun mulai di bagikan pada murid satu per satu dan murid pun naik ke bisnya masing-masing.

Ketika bis mulai berangkat ke Yogjakarta rasanya aku sedikit terharu tidak ingin meninggalka orang tuaku. Lama-kelamaan rasa itu hilang karna di dalam bis aku muai bercanda dan bercerita bersama teman-teman. Beberapa jam di dalam bis dan melewati 1 malam akhirnya kami sampai dengan selamat di Promasan Yogyakarta kira-kira pukul 7.00 pagi. Kami tiba hari selasa 19 Juni 2007 di Kapel Santo Martinus. Kami semua berkumpul untuk berdoa karena sudah sampai dengan selamat dan makan pagi. Selesai maka pagi kami semua berkumpul sesuai dengan kelompok lingkungan kami yang terbagi dalam 7 desa diantaranya Semanggung, Kalisentul, Tanjung, Promasan, Dlingseng, Kajoran dan Tuksanga. Kami menumpangi sebuah mobil untuk di antarkan ke desa yang akan kami tempati. Selama kira-kira 15 menit perjalanan akhirnya kami sampai di desa Tanjung. Ketika sampai saya dan ke delapan tema saya disamput dengan ramah oleh ketua lingkungan desa Tanjung.Kami pun diantarkan ke rumah penduduk yang akan kami tempati, namun kami berpisah dengan teman-teman.

Tak lama kemudian saya dan teman saya Melda tiba di sebuah rumah yang sangat sederhana yaitu rumah ibu Soma Dihajo. Ibu Soma Diharjo ini hanya tinggal berdua dengan anak laki-lakinya yang bernama Cahyo.Kata ibu Soma anaknya Cahyo bekerja di sebuah bengkel yang jauh dari rumah. Ia pergi kerja pagi kira-kira jam 8 dan pulang malam kata ibu Soma. Ibu Soma sendiri sudah tua berumur 65 tahun katanya tetapi ia masih sehat dan kuat.Kami istirahat untuk beberapa saat disebuah rumah tamu yang tidak banyak perabotan rumah. Lalu kami diantar ke kamar yang akan kami tempati untuk beberapa hari. Saya dan Melda disambut denga ramah oleh induk semang tersebut. Ketika datang kami disajikan secangkir teh dan beberapa makanan ringan. Ketika menjelang siang saya membantu ibu Soma Diharjo memasak, mengupas sayur, memotong sayuran dan memasaknya dengan tungku. Ketika beberapa saat apinya mulai redup sedangkan Sayur yang kami masak belum matang, Saya bertanya pada bu soma “bu, iki pie apine mati,nek nyalain apinya nganggo opo yo bu? Bu Soma menjawab” la iku masukkan saja Batang pohonnya dan beberapa helai daun minyak kelapa yang sudah kering.” Dari situ saya menambah pengetahuan saya dengan mengetahui ternyata apinya nyala bisa dengan sehelai daun kelapa yang mengandung minyak dan dapat menyalakan api sehingga irit biaya.Setelah beberapa saat memasak berbagai macam sayur akhirnya matang dan kami menyantapnya bersama ibu Soma. Setelah makan saya dan Melda mencuci piring dan istirahat dan ngobrol bersama ibu Soma.

Di rumah ibu Soma ada banyak hewan peliharaannya misalnya sapi, kambing, ayam,dan anjing.Anjing milik ibu Soma bersih tetapi anjing itu takut dengan manusia.sayapun merasa aneh dengan hewan tersebut.Ketika saya dekatkan dan ingin menyentuhnya anjing itu ia malah lari mengumpat. Beberapa jam kemudian saya dan melda berjalan jalan untuk mengetahui lingkungan sekitar, ke desa kalisentul yang letaknya sangat jauh dari desa yang kami tempati dan bertemu dengan teman-teman saya. Sore hari kami pulang dan istirahat.Malam hari saya bantu ibu soma memasak dan makan bersama-sama. Selesai makan kami pun istirahat dan akhirnya tidur malam.

Pagi hari kami bangun pukul 5.30 kami bantu-bantu ibu soma mengelap perabotan yang ada di rumah ibu soma serta menyapu, lalu kami sarapan bersama. Tak lama kemudian ada teman kami yang datang mengunjungi kami lalu mengajak kami ke sendangsono. Jarak Sendangsono dan rumah ibu Soma cukup jauh. Tapi saat itu kami tidak tau jalan menuju sendangsono namun kami bertanya pada setiap orang yang lewat,dan akhirnya sampai juga,walaupun perjalanan jauh tapi dengan bercerita dan ngobrol dengan teman-teman perjalanan itu tak terasa jauh. Tempat Ziarah Sendangsono suasananya luas, bersih, namun sepi, kami pun bertemu dengan teman –teman yang tinggal di dekat sendangsono. Disana kami berdoa di goa Maria dan kami juga sempat mengambil air suci serta meminumnya. Sore hari kami pulang. Lalu istirahat,bantu ibu soma memasak makanan untuk malam hari dengan sayuran segar yang baru diambil dari ladang tadi siang kata ibu soma.walaupun bumbu-bumbu masak yang digunakan oleh ibu Somagunakan sama tapi rasanya berbedea dan mungkin lebih lezat karena hasil panen ibu Soma sendiri.

Esok harinya saya dan melda membantu ibu Soma memasak untuk sarapan, lalu kami makan bersama. Setelah kami mandi dan istirahat ibu soma mengajak kami untuk pergi ke ladang ibu soma yang letaknya jauh dari rumah ibu Soma. Perjalanan ke ladang ibu Soma cukup lama karena masih naik ke atas gunung. Jalannya pun kecil ,licin dan melewati jurang. Saya dan Melda takut terpeleset dan jatuh ke jurang.Untungnya kami selamat sampai di ladang. Ladang ibu Soma cukup luas. Saya dan melda di perbolehkan memetik hasil panen Ibu soma seperti memetik cabai, kacang panjang, pisang,singkong,dan coklat, kami juga membantu ibu Soma memupuk pohon cengkeh,lada dan cocoa, saya disuruh ibu soma untuk tidak pakai sendal karena licin nanti terjatuh kata ibu soma. Hasil panen ibu Soma banyak kami senang melihat hasil panennya,apalagi memetiknya sendiri.Karena selama ini saya belum pernah memetik buah hasil panen apalagi dai ladang sendiri.

Namun saat itu hujan turun dan kami tidak bisa lama-lama di ladang. Ibu soma memotong daun talas dan daun pisang untuk kami, Untuk payung katanya ibu Soma. Lalu kami pakai selama perjalanan pulang. Wah senang sekali rasanya seperti berpetualang dan benar-benar merasakan desa.Ibu soma kuat membawa banyak singkong dan hasil panennya yang cukup berat dari ladang ke rumah , saya jadi kagum melihatnya. Ternyata orang di desa banyak orang yang pekerja keras. Ketika sampai dirumah kami istirahat dan makan siang, ibu soma juga membuatkan jagung bakar untuk kami,walaupun rasanya tidak sama dengan jagung yang ada di jakarta. Lalu kami melihat ibu soma membuat tempe bengo lain dengan tempe kedelai,yang ternyata membuatnya itu susah-susah gampang. Lalu sore harinya setelah istirahat kami jalan –jalan ke rumah teman-teman yang ada di sekitar desa kami.Walaupun melewati jurang dan menyebrang gunung kami tetap semangat untuk menjelajah dan bertemu dengan teman-teman yang lainnya. Saat perjalanan kami pun menyapa orang yang kami lewati. Mereka senang dan ramah bila kami sapa. Malam hari kami sampai di rumah lalu makan malam dan beres-beres karena besok pagi akan kembali pulang ke jakarta.

Pagi hari tiba dengan cerah dan kami akan meninggalkan desa Tanjung.sebelum pulang saya makan bersama dengan ibu Soma dan ibu soma juga sempat membawakan oleh –oleh untuk kami walaupun tidak banyak. Pokoknya 4 hari itu sangat berkesan bagi saya. Saat kami mau pulang saya terharu dan ingin menangis tidak tega meninggalkan ibu Soma yang sudah tua baik hati serta menganggap kami seperti anaknya sendiri. Mobil yang akan menjemput kami pun datang dan kami berkumpul di sebuah gereja untuk misa dan pamit kepada ketua lingkungan. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Borobudur. Di borobudur Kita foto-foto melihat lihat suasana dan saya sempat dengar cerita gaet yang sedang menjelaskan tentang borobudur kepada wisatawan katanya gunung yang didepan borobudur menyerupai manusia yang sedang tidur dan udara dingin di borobudur bukan karena berada dekat pegunungan tetapi karena tehnik pemuatan candi pada jaman dulu,candi juga banyak yang rusak akibat gempa pada tahun 2006 lalu. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke kerajinan perak, melihat penbuatan Bros dari perak serta membersihkan perak.Lalu ke malioboro dan pulang ke jakarta.

Wong Ndeso Yang Menjadi Pengusaha Sukses


Bakso kota Cak Man raih rekon MURI pada juni 2007Abdul Rahman Tukiman - Bocah gunung yang satu ini masa kecilnya dijalani dengan kemiskinan. Beruntung, dari usaha berdagang bakso malang ia kini mejadi pengusaha sukses. Masa kecilnya dilalui di suatu dusun kecil yaitu desa Sumurup, Kecamatan Bendungan, Trenggalek, Jawa timur. Desa itu boleh dibilang secara ekonomi kurang maju. Selain karena terpencil juga kondisi alam sekitarnya yang berbukit batu dan gersang sehingga kurang menguntungkan bagi pertanian. Namun ditengah serba tidak menyenangkan tersebut, menumbuhkan jiwa tangguh, tahan menderita, tidak mudah mengeluh dan tidak pernah mau menyerah dalam diri seoarang anak yang bernama Abdul Rahman Tukiman.

Dilahirkan pada tanggal 4 April 1961 dari pasangan Bapak Saimun dan Ibu Paijem ini, masa kecil Abdul Rahman Tukiman bisa dibilang dilalui dengan cukup berat. Pasalnya, meski orang tuanya memiliki sawah ladang yang cukup luas namun sejak usia 9 tahun ia sudah menjadi anak yatim. Otomatis, sawah ladang yang luas itu pun menjadi semakin seperti tidak bertuan karena tidak ada yang mengelola. Sementara, kakak, adik dan ibunya masih tetap harus makan dan bertumpu pada hasil sawah ladang tersebut. Tidak ada jalan lain, akhirnya untuk menyambung hidup terpaksa petak demi petak sawah telah habis digadaikan. Akibatnya, kehidupan keluarga ini menjadi tidak menentu dan semakin terpuruk dari waktu ke waktu.

Namun kegetiran tersebut tidak lantas terus diratapi olah Cak Man begitu sapaan akrab Abdul Rahman Tukiman. Justru menjadi cambuk. Seiring usianya beranjak ramaja, berbekal tekad yang kuat anak ke 5 dari 8 bersaudara ini kemudian terlecut hatinya untuk keluar dari kemiskinan dengan meninggalkan desa tercinta untuk mengadu nasib di kota.

Waktu itu ia belum tahu mau pergi ke kota mana, apalagi uang saku yang dikumpulkan juga kurang. Dalam kondisi yang hampir putus asa, nasib baik pun datang. Tiba-tiba ada seorang pengusaha Bakso bernama Bapak Sumaji tengah mencari pemuda desa untuk diajak bekerja di Malang. Mendengar itu Cak Man tanpa pikir panjang pekerjaannya lantas menyambut tawaran tersebut.

Berdagang Bakso
Meski terasa berat meninggalkan Ibu dan keluarganya, langkah Cak Man tetap mantap untuk bekerja di Kota. Pertama menginjakkan kaki di Malang, semua pekerjaan dilakoninya. Mulai dari membantu memasak bakso, mencuci peralatan masak sampai menyiapkan bakso di rombong/gerobak-bakso yang akan dibawa juragannya berjualan keliling.

Lama-lama pekerjaan itu membosankannya, akhirnya ia pun berniat untuk ikut jualan Bakso keliling juga. “Pertama kali jualan tahun 1980 ketika masih berusia 19 tahun senang banget rasanya,” kisahnya. Tidak diduga, hasil jualan baksonya ternyata laris manis. Alhasil, sejak saat itu berjualan bakso, menjadi hari-hari yang terasa indah baginya karena pendapatannya melebihi apa yang didapatkan ketika masih membantu mencari kayu di desa.

Setelah melewati masa-masa susah dan senang berjualan bakso ditambah pengalaman ikut bersama 3 juragan, terpikir dalam hati Cak Man untuk berjualan sendiri. Karena setelah dihitung-hitung ternyata berjualan sendiri bakso sangat menguntungkan. Namun sekali lagi, semua terbentur modal. Waktu itu Cak Man tidak memiliki uang sama sekali untuk modal usaha. Baru pada 1984, bermodalkan hasil tabungannya selama 2 tahun sebesar Rp 77 ribu, Cak Man memberanikan diri membuka warung bakso. “Mulailah tahun itu saya berjualan bakso sendiri,” ujarnya.

Prinsipnya pada waktu itu sederhana, “Seperti orang belajar silat,” katanya. Berbekal pengalaman bekerja pada 3 juragan bakso yang masing-masing memiliki jurus andalan, tentunya ia juga bisa uga memiliki jurus ampuh yang merupakan penggabungan dari ketiga jurus andalan 3 pendekar tersebut. “Dengan mengkombinasikan kelebihan dari 3 juragan tersebut, saya yakin bahwa bakso buatannya menjadi jauh lebih unggul dan digemari masyarakat,” imbuhnya lagi.

Seperti halnya usaha-usaha lainnya, pada hari-hari pertama diwarnai ketidak-menentuan, hari ini ramai, hari berikutnya sepi. Menghadapi kondisi seperti ini, bukan malah menyurutkan hati Cak Man untuk berhenti berjualan tetapi makin menambah semangatnya untuk bagaimana membuat baksonya enak dimata pelanggan.

Sukses pun diraih
Kerja keras dan keuletannya membuahkan hasil. Warung baksonya setiap hari dibanjiri pelanggan. Cabang-cabang lain pun kemudian didirikannya. Kesuksesan lambat laun diraihnya Cak Man. Sampai akhirnya ia memfranchisekan usahanya dan pada Februari 2007 mendirikan PT Kota Jaya, untuk mengurusi manajemen usaha baksonya agar lebih modern. Hebatnya lagi, kini setelah 23 tahun usaha baksonya berjalan, ia telah memiliki 57 buah gerai dan mampu menyerap ratusan tenaga kerja. Dengan asumsi setiap gerai mempekerjakan 16 karyawan (di luar pemilik gerai), maka dengan 60 gerai yang ada saat ini, wong ndeso Cak Man mampu menampung jumlah tenaga kerja sebanyak : 57 x 16 = 960 orang.

Tidak hanya itu, kemana-mana ia kini sudah tidak lagi jalan kaki atau naik sepeda onthel. Ia sudah bisa naik mobil mewah lengkap dengan driver yang selalu siap mengantar kemana ia pergi. Rumahnya pun sangat besar terdiri dari dua lantai seluas 1000 m2. Istrinya adalah Hj. Mariyah Maryatun. Anak pertamanya, Andik Purwanto sedang menyelesaikan kuliahnya di FIA, Universitas Brawijaya, Malang. Anak kedua, Yuli Nur Avianti yang masih duduk di bangku SLTA, dan anak ketika Cantika Putri Rahmadani masih balita. Meski semua telah diraih, Cak Man tak lantas lupa dengan asal muasalnya yang wong ndeso dan katro. Ia masih rendah hati dan santun terhadap siapapun.

Cak Man mengakui, selama merintis usaha banyak hal berkesan yang pernah dialaminya, terutama pada tahun 1990 – 2000. Contohnya, pada 1993 ia dari hasil jualan bakso ia berhasil membeli mobil bekas buatan tahun 1986. Namun karena rumahnya masih di dalam gang kecil, maka setiap malam ia terpaksa tidur di dalam mobil sambil menunggu mobilnya yang diparkir di tepi jalan.

Disamping itu, ia juga berhasil membuka gerai baru di Jl. Ciliwung, Jl. Mayjen Wiyono dan di beberapa tempat lain di kotamadya Malang. Dari sinilah akhirnya mendudukkan Cak Man dengan Bakso Kotanya sebagai pedagang bakso-malang papan atas yang memiliki gerai terbanyak. Tidak hanya itu, Cak Man kemudian juga mampu membeli rumah di Jl. Kedawung II/11. Rumah baru tersebut disamping sebagai tempat tinggal juga sebagai tempat memasak dan penampungan para karyawannya.

Meski berasal dari desa di lereng gunung, Cak Man memiliki visi kedepan yang sangat kuat. Cak Man berkeyakinan bahwa setiap orang harus punya cita-cita dan untuk menggapainya perlu usaha yang sungguh-sungguh dibarengi dengan kemauan belajar kepada siapapun.

“Kunci saya membangun usaha hingga sebesar adalah senantiasa meningkatkan mutu dan layanan, membuat inovasi baru (semula hanya 6 varian saat ini sudah 22 varian), sering mengikuti kegiatan pelatihan, mematenkan merek dagang dan menerapkan manajemen modern,” ujarnya.

Lebih dari itu yang tak kalah penting dan selalu dipegang teguh Cak Man adalah selalu berpikir untuk jangka panjang. “Dahulu kalau hanya berjualan bakso tradisional, saya tidak perlu melakukan macam-macam. Sekarang, tidak bisa diam begitu saja.

Sekarang, Bakso Kota Cak Man sudah memposisikan diri sebagai salah satu resto cepat saji asli Indonesia yang berjuang untuk dapat bersaing dengan resto cepat saji mancanegara seperti KFC, McDonald, Hoka-hoka Bento dan lain sebagainya. Jadi, saya harus berbenah diri untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan,” terangnya.

Tukul Arwana, Wong Ndeso Yang Terfavorit

Tukul, Pelawak Terfavorit
Tukul, Pelawak Terfavorit
Si wong ndeso, Tukul Arwana, berhasil menjadi pelawak terfavorit pilihan pemirsa dalam Panasonic Award 2007 yang berlangsung, Jumat Malam, 30/11-2007.

"Saya hanya 'wong ndeso' tetapi yang memilih saya 'wong pinter" semua. Dan ini benar-benar anugerah Allah SWT kepada saya di tahun ini," kata Tukul saat memberikan sambutan atas kemenangannya.

Tukul menyisihkan nominasi lain seperti Aming, Eko Patrio, Taufik Savalas (almarhum), dan Tora Sudiro. Tukul sendiri tidak pernah menyangka kalau dirinya mampu menyisihkan dedengkot pelawak yang notabene sangat senior dibandingkan dirinya.

"Jujur, saya mengira Almarhum Taufik Savalas yang akan memenangkan penghargaan ini. Tetapi ternyata hasilnya sungguh di luar dugaan saya. Pemirsa televisi memang tidak bisa diduga dan ditebak. Puas-puas.....semua ! katanya sambil berseloroh kepada rileks.com.

Jadi jalan-jalan ke Eropa dong nich, tanya rilekks.com kepada Tukul waktu ditanyakan komentarnya mengenai hadiah dari Panasonic Awards. Dimana pada tahun lalu, seluruh pemenang Panasonic Awards, diajak jalan-jalan keliling Eropa.

"Alhamdulillah kalau memang masih berlaku hadiahnya. Tapi sayang cuma untuk satu orang. Minta doanya aja mbak, siapa tahu untuk kategori yang satunya saya juga menang," kelakar Tukul.

Dan, memang harapan Tukul terkabuli, karena untuk kategori presenter Talkshow terfavorit, Tukul juga meraih penghargaan. Alhasil, keinginan Tukul untuk memboyong anak istrinya jalan-jalan terpenuhi.

Nama Tukul semakin meroket ketika tampil membawakan program acara "Empat Mata" di Trans 7 dengan lawakannya yang khas seperti "kembali ke laptop", wong ndeso (orang desa), "katro" (kampungan), dan "tak sobek-sobek".

Bahkan ia sempat diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena Kepala Negara merasa terhibur dengan tayangan "Empat Mata" tersebut. Acara ini memang dalam format bentuk "talkshow" dengan diimbuhi humor-humor segar ala Tukul.

Usai memberikan sambutan atas kemenangannya, kelompok Peterpan tampil membawakan lagu "Tentang Kita". Saat lagu itu dilantunkan, pada layar lebar di belakang panggung tampak gambar sejumlah artis yang telah meninggal dunia sepanjang tahun 2007 ini seperti Big Dicky, Chrisye, Lilis Suryani, Taufik Savalas, dan Rita Zahara.

Tukul sendiri sempat berhenti berkomentar dan memberikan penghormatannya kepada para rtis yang telah meninggal dunia
Rumah Makan Wong Ndeso
Ingin menikmati masakan tradisional khas Indonesia, coba saja kita dapat mengunjungi Rumah Makan Wong Ndeso yang berada di Jalan Gereja Medan. Di sana sajian aneka masakah khas tradisional Indonesia dapat Anda cicipi. Menu pilihan itu misalnya ayam bakar, belut goreng, nasi goreng, mi goreng dan lainnya. Selain itu, kita juga dapat menikmati aneka minuman seperti air kelapa muda yang dikombinasikan dengan sirsak dan jeruk kesturi.

Jika sudah mencicipi makanan tersebut, pengunjung dijamin pasti akan mengingat rumah makan Wong Ndeso tersebut. Nasi goreng yang disajikan itu sangat nikmat dan lezat, karena bumbu itu diracik oleh sang koki berpengalaman. Selain nasi goreng, belut goreng juga banyak diminati para pengunjung baik yang muda maupun yang tua.

Ayam bakar juga pun banyak diminati karena rasanya sangat istimewa sekali. Tidak seperti yang kita jumpai di tempat-tempat lain. Aromanya harum dan dagingnya juga empuk. Sebelum ayam dibakar di atas bara api, ayam tersebut telah dikukus bersamaan dengan bumbu, sehingga bumbu meresap.

Air kelapa muda yang dikombinasikan dengan sirsak dan jeruk kesturi merupakan minuman istimewa. Pengunjung yang selalu datang ke sana sering memesan minuman tersebut. Karena di minuman itu kita dapat merasakan manis dan asam. Dimasukkan madu asli membuat kita lebih fresh.

Selain membuat fresh, minuman ini juga memberikan tenaga kepada pengunjung. Karena manfaat madu yang terkandung di dalamnya sangat membantu memulihkan stamina dan memberikan kita tenaga.

masakan ala wong ndeso

Udah lama ga makan opor, jadi ya ini saatnya bergerilya di dapur :D, dimakan ama sambel pete + rebusan daun selada air hhmmmm kalau sampai ada yang nambah ampe 2 piring jangan protes ya :D

Ingredients:
5 potong tahu, bagi 2, goremh setengah kering
10 potong paha ayam, buang kulitnya
500 ml santan setengah kental
3 siung bawang putih, cincang kasar, goreng hingga kecoklatan
5 butir bawang merah, iris halus, goreng hingga kecoklatan
3 lebar daun salam
2 iris lengkuas
1 iris jahe, geprek
2 lbr daun jeruk

Bumbu Halus:
1 sdt ketumbar
1 sdt merica butiran
4 butir kemiri
1/4 sdt jinten
1 ruas jari kunyit, bakar hingga layu
garam & gula secukupnya

Directions:
1. lumuri paha ayam dengan bumbu halus, diamkan 15 menit, masak diatas api hingga keluar air dan setengah matang
2. Masukkan santan, dan bumbu rempah lainnya setelah itu masukkan tahu. terakhir ketika hampir mendidih masukkan bawang putih + merah yang sudah digoreng tadi
3. Makan yukkkkk!!!

Kaizen, Kata Hati dan Inspirasi

tak hanya sekedar mengungkap fakta…

Wong Ndeso dan Orang Desa

leave a comment »

Istilah orang ndeso mungkun udah familiar di telinga kita. Kata ini biasa diucapkan oleh Tukul Arwana di acara Four Eyes (baca: 4 Mata). Sebenarnya kata ’Ndeso’ udah lama aku dengar, udah lama digunakan dalam bahasa sehari-hari, tapi baru menjadi trend saat ini. Kata-kata ini biasa diucapkan oleh Tukul kepada orang yang gak mengerti apa-apa, gaptek dan malu2in

Beda lho Orang Desa dengan Wong Ndeso, beda disini bukan karena dari segi bahasa, yang satu Bahasa Indonesia dan satunya lagi Bahasa Jawa. Tapi kita lihat esensinya.

Orang Desa adalah orang yang berasal dari desa atau kampung halaman. Orang desa biasanya pergi ke kota untuk mengadu nasib

Sementara Wong Ndeso adalah orang yang malu-maluin, gaptek, lemot, lelet, gak ngerti apa-apa. Wong ndeso gak peduli asal orang itu darimana, mau dari desa beneran atau dari kota sekalipun. Wond ndeso biasanya kalau kita ajak ke Mall atau tempat2 yang belum pernah ia kunjungi biasanya ndesit, alias gak tau apa2, berbuat yang malu2in, dan kelihatan banget kalau ia gak pernah kesana.

Minggu, 14 Desember 2008

yah lagi-lagi wong ndeso...
inilah ciri-ciri wong ndeso :

· Wajah kusam tak bertenaga
Nah, ni merupakan ciri Wong Ndeso Versi Gueh yang pertama. Wajah kusam tak bertenaga, jadi kalo diibaratkan mah kayak kedelai alias keledai. Udah wajahnya abstrak. Jadi kita pasti bingung nentuin mana yang mulut, hidung, mata, tangan dan kaki (Ups, emang kaki dan tangan ada dimuka? Dasar anak kebo!!). Mengapa ciri tersebut tak masukkan ke dalam ciri khas Wong Ndeso Versi Gueh, karena eh karena coba deh bayangin kamu lagi ngedet ma tu orang dan kamu ajak makan di mana getok, yah minimal mekdi-lah. Kamu malu nggak? Kalo nggak malu ya udah nggak apa-apa, terserah situ, hehehe. Masak jadi orang yang berwajah kusam tak bertenaga bangga? Dijamin deh nggak bakalan ada cewek yang nggodain, paling-paling ya coba pengen nampar.

· Badan nggak terawat
Kalo yang ini merupakan ciri khas kedua Wong Ndeso Versi Gueh, yakni badan nggak terawat. Maksudnya yang nggak terawat kayak gimana nih? Nyantai aja, Brur. Kata terawat versi gueh ntu gak melulu harus ke salon, tetapi badanmu harus kamu jaga sebaik mungkin, agar apa anak-anak? Yaps, agar enak dipandang. Coba deh bayangin (sebentar aku akan membayangkan dulu *mbayangin pacara ma Paris Hilton, ngarep!) kalo lu keluar ke Mol gitu ma seorang cewek atau cewek, tapi ingat jangan keluar ma bencong, soalnya info ini hanya untuk yang mempunyai kelamin jelas bentuknya. Tiba-tiba saat pasanganmu tu mau kamu pegang tangannya, terus mau kamu cium, STOP! Ingat ini bulan puasa, janganlah melakukan hal-hal yang dilarang agama, betul? Maksudnya tu kalo pasanganmu badannya penuh dengan panu dan kadas, gimana ? masih napsu Lu? Kagak khan? Mangkanya hal tersebut tak masukkan ke dalam ciri khas Wong Ndeso Versi Gueh.

· Kurus tapi nggak menggairahkan
Nah, kalo yang atu ini bagi mereka yang kurus-kurus. Nggak usah banyak penjelasan kalo yang satu ini, langsung pada contohnya.
Nih contoh kurus yang menggairahkan. Nikmat khan?

· Nggak fashionable (pakaiannya nggak matching)
Kalo yang satu ini mungkin udah barang lama, alias hal lama yang selalu lengket dengan wong ndeso. Yaitu nggak bisa menyesuaikan dengan keadaan yang nyata adanya. Jangan pernah ada alasan yang menyatakan kalo kamu orang yang nggak kreatip, misalnya dengan beralasan, “Mau gimana lagi, baju ku khan Cuma satu ini yang bagus”. Stop, Brur, gunakan akal sehat yang telah dikaruniakan Tuhan kepadamu (Woits, bahasanya itu lo, kagak nahaaaan!!!).

· Kalo makek celana selalu di atasnya pusar
Yang ini sebenarnya sebuah hal yang relatif, karena suka-suka mereka sendiri mau make celana dimana. Tapi mengapa tak ikutkan ke dalam ciri khas Wong Ndeso Versi Gueh. Hal itu karena aku paling sebel ma cewek (baik yang masih perawan atau udah nggak perawan) make calana di atasnya pusar. Kenapa aku sebel bin jengkel? Karena hal itu malah memperlihatkan kalo dia itu nggak bisa berpakaian dengan benar dan baik. Ingat tujuan orang berpakaian itu apa seh? Selain untuk menutupi tubuh dari mata-mata yang nggak pernah sekolah, juga untuk memperlihatkan bagaimana indahnya karunia Tuhan tersebut. Mengapa kok baju banyak modelnya? Ya supaya semakin terlihat keindahannya saat dipakai dan semakin menambah kecantikan sipemakai. Nah sekarang masalahnya kalo makeknya di atas pusar, yang terlihat bukannya tambah cantik tapi tambah ancur, Buuk. Camkan itu! Apalagi ditambah dengan memakai baju yang ketat dan pendek, goblok banget sih Lu, Buuk!