Senin, 15 Desember 2008

BELAJAR DARI WONG NDESO
Oleh Benedicta Ecsella / XI IPS 2

Pada tanggal 18 juni 2007, SMA Tarsisius II Jakarta mengadakan Live in Di Promasan-Yogyakarta. Saat jam menunjukan pukul 3 siang saya sampai di sekolah untuk berkumpul terlebih dahulu. Saat teman-teman semua sudah datang, kami mulai di absen, pak Beni memberi tahu peraturan live in dan berbicara sedikit mengenai live in kemudian ada kata sambutan dari sekolah oleh Pak Sri dan kata sambutan dari salah satu orang tua murid. Baju live in pun mulai di bagikan pada murid satu per satu dan murid pun naik ke bisnya masing-masing.

Ketika bis mulai berangkat ke Yogjakarta rasanya aku sedikit terharu tidak ingin meninggalka orang tuaku. Lama-kelamaan rasa itu hilang karna di dalam bis aku muai bercanda dan bercerita bersama teman-teman. Beberapa jam di dalam bis dan melewati 1 malam akhirnya kami sampai dengan selamat di Promasan Yogyakarta kira-kira pukul 7.00 pagi. Kami tiba hari selasa 19 Juni 2007 di Kapel Santo Martinus. Kami semua berkumpul untuk berdoa karena sudah sampai dengan selamat dan makan pagi. Selesai maka pagi kami semua berkumpul sesuai dengan kelompok lingkungan kami yang terbagi dalam 7 desa diantaranya Semanggung, Kalisentul, Tanjung, Promasan, Dlingseng, Kajoran dan Tuksanga. Kami menumpangi sebuah mobil untuk di antarkan ke desa yang akan kami tempati. Selama kira-kira 15 menit perjalanan akhirnya kami sampai di desa Tanjung. Ketika sampai saya dan ke delapan tema saya disamput dengan ramah oleh ketua lingkungan desa Tanjung.Kami pun diantarkan ke rumah penduduk yang akan kami tempati, namun kami berpisah dengan teman-teman.

Tak lama kemudian saya dan teman saya Melda tiba di sebuah rumah yang sangat sederhana yaitu rumah ibu Soma Dihajo. Ibu Soma Diharjo ini hanya tinggal berdua dengan anak laki-lakinya yang bernama Cahyo.Kata ibu Soma anaknya Cahyo bekerja di sebuah bengkel yang jauh dari rumah. Ia pergi kerja pagi kira-kira jam 8 dan pulang malam kata ibu Soma. Ibu Soma sendiri sudah tua berumur 65 tahun katanya tetapi ia masih sehat dan kuat.Kami istirahat untuk beberapa saat disebuah rumah tamu yang tidak banyak perabotan rumah. Lalu kami diantar ke kamar yang akan kami tempati untuk beberapa hari. Saya dan Melda disambut denga ramah oleh induk semang tersebut. Ketika datang kami disajikan secangkir teh dan beberapa makanan ringan. Ketika menjelang siang saya membantu ibu Soma Diharjo memasak, mengupas sayur, memotong sayuran dan memasaknya dengan tungku. Ketika beberapa saat apinya mulai redup sedangkan Sayur yang kami masak belum matang, Saya bertanya pada bu soma “bu, iki pie apine mati,nek nyalain apinya nganggo opo yo bu? Bu Soma menjawab” la iku masukkan saja Batang pohonnya dan beberapa helai daun minyak kelapa yang sudah kering.” Dari situ saya menambah pengetahuan saya dengan mengetahui ternyata apinya nyala bisa dengan sehelai daun kelapa yang mengandung minyak dan dapat menyalakan api sehingga irit biaya.Setelah beberapa saat memasak berbagai macam sayur akhirnya matang dan kami menyantapnya bersama ibu Soma. Setelah makan saya dan Melda mencuci piring dan istirahat dan ngobrol bersama ibu Soma.

Di rumah ibu Soma ada banyak hewan peliharaannya misalnya sapi, kambing, ayam,dan anjing.Anjing milik ibu Soma bersih tetapi anjing itu takut dengan manusia.sayapun merasa aneh dengan hewan tersebut.Ketika saya dekatkan dan ingin menyentuhnya anjing itu ia malah lari mengumpat. Beberapa jam kemudian saya dan melda berjalan jalan untuk mengetahui lingkungan sekitar, ke desa kalisentul yang letaknya sangat jauh dari desa yang kami tempati dan bertemu dengan teman-teman saya. Sore hari kami pulang dan istirahat.Malam hari saya bantu ibu soma memasak dan makan bersama-sama. Selesai makan kami pun istirahat dan akhirnya tidur malam.

Pagi hari kami bangun pukul 5.30 kami bantu-bantu ibu soma mengelap perabotan yang ada di rumah ibu soma serta menyapu, lalu kami sarapan bersama. Tak lama kemudian ada teman kami yang datang mengunjungi kami lalu mengajak kami ke sendangsono. Jarak Sendangsono dan rumah ibu Soma cukup jauh. Tapi saat itu kami tidak tau jalan menuju sendangsono namun kami bertanya pada setiap orang yang lewat,dan akhirnya sampai juga,walaupun perjalanan jauh tapi dengan bercerita dan ngobrol dengan teman-teman perjalanan itu tak terasa jauh. Tempat Ziarah Sendangsono suasananya luas, bersih, namun sepi, kami pun bertemu dengan teman –teman yang tinggal di dekat sendangsono. Disana kami berdoa di goa Maria dan kami juga sempat mengambil air suci serta meminumnya. Sore hari kami pulang. Lalu istirahat,bantu ibu soma memasak makanan untuk malam hari dengan sayuran segar yang baru diambil dari ladang tadi siang kata ibu soma.walaupun bumbu-bumbu masak yang digunakan oleh ibu Somagunakan sama tapi rasanya berbedea dan mungkin lebih lezat karena hasil panen ibu Soma sendiri.

Esok harinya saya dan melda membantu ibu Soma memasak untuk sarapan, lalu kami makan bersama. Setelah kami mandi dan istirahat ibu soma mengajak kami untuk pergi ke ladang ibu soma yang letaknya jauh dari rumah ibu Soma. Perjalanan ke ladang ibu Soma cukup lama karena masih naik ke atas gunung. Jalannya pun kecil ,licin dan melewati jurang. Saya dan Melda takut terpeleset dan jatuh ke jurang.Untungnya kami selamat sampai di ladang. Ladang ibu Soma cukup luas. Saya dan melda di perbolehkan memetik hasil panen Ibu soma seperti memetik cabai, kacang panjang, pisang,singkong,dan coklat, kami juga membantu ibu Soma memupuk pohon cengkeh,lada dan cocoa, saya disuruh ibu soma untuk tidak pakai sendal karena licin nanti terjatuh kata ibu soma. Hasil panen ibu Soma banyak kami senang melihat hasil panennya,apalagi memetiknya sendiri.Karena selama ini saya belum pernah memetik buah hasil panen apalagi dai ladang sendiri.

Namun saat itu hujan turun dan kami tidak bisa lama-lama di ladang. Ibu soma memotong daun talas dan daun pisang untuk kami, Untuk payung katanya ibu Soma. Lalu kami pakai selama perjalanan pulang. Wah senang sekali rasanya seperti berpetualang dan benar-benar merasakan desa.Ibu soma kuat membawa banyak singkong dan hasil panennya yang cukup berat dari ladang ke rumah , saya jadi kagum melihatnya. Ternyata orang di desa banyak orang yang pekerja keras. Ketika sampai dirumah kami istirahat dan makan siang, ibu soma juga membuatkan jagung bakar untuk kami,walaupun rasanya tidak sama dengan jagung yang ada di jakarta. Lalu kami melihat ibu soma membuat tempe bengo lain dengan tempe kedelai,yang ternyata membuatnya itu susah-susah gampang. Lalu sore harinya setelah istirahat kami jalan –jalan ke rumah teman-teman yang ada di sekitar desa kami.Walaupun melewati jurang dan menyebrang gunung kami tetap semangat untuk menjelajah dan bertemu dengan teman-teman yang lainnya. Saat perjalanan kami pun menyapa orang yang kami lewati. Mereka senang dan ramah bila kami sapa. Malam hari kami sampai di rumah lalu makan malam dan beres-beres karena besok pagi akan kembali pulang ke jakarta.

Pagi hari tiba dengan cerah dan kami akan meninggalkan desa Tanjung.sebelum pulang saya makan bersama dengan ibu Soma dan ibu soma juga sempat membawakan oleh –oleh untuk kami walaupun tidak banyak. Pokoknya 4 hari itu sangat berkesan bagi saya. Saat kami mau pulang saya terharu dan ingin menangis tidak tega meninggalkan ibu Soma yang sudah tua baik hati serta menganggap kami seperti anaknya sendiri. Mobil yang akan menjemput kami pun datang dan kami berkumpul di sebuah gereja untuk misa dan pamit kepada ketua lingkungan. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Borobudur. Di borobudur Kita foto-foto melihat lihat suasana dan saya sempat dengar cerita gaet yang sedang menjelaskan tentang borobudur kepada wisatawan katanya gunung yang didepan borobudur menyerupai manusia yang sedang tidur dan udara dingin di borobudur bukan karena berada dekat pegunungan tetapi karena tehnik pemuatan candi pada jaman dulu,candi juga banyak yang rusak akibat gempa pada tahun 2006 lalu. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke kerajinan perak, melihat penbuatan Bros dari perak serta membersihkan perak.Lalu ke malioboro dan pulang ke jakarta.

Tidak ada komentar: